wejangan

17 Nov 2011

saat saya nulis ini, sedang jam istirahat.

kantor sepi. nasabah terakhir sudah pulang. saya merenungi dialog yang terjadi baru saja dengan beliau, sebut saja Bapak Dul. begini kira-kira percakapan kami :

Dul = si kecil sudah umur berapa?

Saya = 8 bulan

Dul = sudah ‘kumpul’ belum dengan suami?

Saya = *ketawa* memangnya kenapa pak?

Dul = jangan dulu, … bla bla bla …

– btw, ini sudah yang kesekian kalianya beliau memberi saya wejangan. sejak pertama kali saya masuk kerja setelah cuti melahirkan, dan dia pastinya ke kantor setiap bulan untuk ambil gaji pensiun –

Ya. Pak Dul ini selalu mewanti-wanti saya untuk tidak berhubungan badan dengan suami sampai marvel usia 1 tahun.

can you imagine it?

– saya — tidak — boleh — berhubungan — badan — dengan — suami — SELAMA — SATU TAHUN !!!

saya? mungkin bisa. karena ada marvel. kesibukan sebagai ibu dan lain-lain mungkin bisa membuat saya tidak melulu berorientasi pada kebutuhan sex. MUNGKIN.

tapi suami saya? laki-laki. dont think so.

well. jadi kenapa pak dul ini memberi wejangan untuk tidak berhubungan badan dengan suami sampai at least marvel berusia 1 tahun? satu alasan besar : hubungan sex mempengaruhi kualitas asi. katanya lagi, anak yang kualitas asinya terganggu karena proses “pemurnian si sumber asi’ ini akan tumbuh alum (a.k.a tidak segar, layu).

saya tidak mengamini atau membantah. saya senyum-senyum aja. kalau saya jawab belum juga dia nggak akan tahu saya bohong toh. hehehe. saya menghargai pendapatnya. saya menyangkal toh dia pasti lebih ngeyel dan debat kusir akan terjadi. i dont like that.

bukti singkat, marvel anak yang ’segerrrrrr’. alum dari mana lihat tingkahnya yang super duper ajaib gitu. walau belum bisa berdiri tegak, baru 8 bulan tapi bisa naik turun kursi sofa dan kasur tinggi. hadeeeeeh. itu mungkin malah berkat asi yang tercemar hubungan sex *ngakak*.

kalau dibilang ‘puasa’ berhubungan selama punya balita, kalau menurut saya, lebih karena kalau seandainya pembuahan terjadi, anak sulung masih terlalu kecil untuk berbagi perhatian dengan adiknya. kalaupun ternyata sundulan (si ibu hamil sementara si anak masih di usia <1tahun) toh nggak mungkin bisa ditolak.

Tuhan pasti punya rencana pada bayi yang tumbuh dalam rahim seseorang. Apapun itu. Mungkin kita belum mengerti, tapi kita tidak punya hak untuk memusnahkannya.

lagipula, masih-masing pasangan punya rencana sendiri untuk keluarga kecil mereka. seperti saya dan suami. saya tidak menunda kalau marvel diberi adik secepatnya. tinggal menunggu yang punya kemampuan menanam sebentuk nyawa dalam rahim saya :-)

jujur, saya sering kesal sebenarnya dengan wejangan Pak Dul (dan pak dul pak dul lainnya) yang kesannya sok tahu dan sok ngurusin kehidupan orang lain. uhm, dia bukan apa-apa saya. dia ‘hanya’ customer yang mengenal saya di kantor. tidak mengenal kehidupan pribadi saya. tapi ya, sekali lagi, saya menghargai pendapat dia dalam diam.

beda lagi yang terjadi dengan teman saya. seorang dokter anak. suaminya dokter kandungan. sejak menikah sampai usia pernikahannya yang ke-8 belum punya keturunan, dan setahun terakhir mengadopsi anak.

teman saya ini korban pak dulu juga :-D

pak dul pernah bilang, “bu, njenengan kan dokter anak. suami dokter kandungan. masak nggak bisa pake hitungan cara paling mutakhir untuk membuat anak?”

sama dengan saya, si teman tak menjawab apapun. mungkin lebih nyeri buat dia dengan pertanyaan (atau pernyataan?) pak dul. menurut saya, semutakhir dan secanggih apapun teknologi, kalau sudah bicara tentang ANAK, satu-satunya yang berkuasa menghadirkannya di dunia ini adalah KEHENDAK TUHAN.

sedih, saya dengarnya. tapi si teman saya tidak menjawab. hanya tersenyum.

dan perihnya, yang saya tahu, teman saya si dokter anak itu sudah menjalani operasi pengangkatan rahim sejak masih remaja (sebelum menikah) karena kanker rahim stadium 4 yang dia derita. mungkin, rencana Tuhan juga yang menjodohkan dia dengan suaminya sekarang yang berprofesi sebagai dokter kandungan. rencana Tuhan juga dia diberi rejeki melalui profesinya yang dokter anak.

so. saya nggak akan berpanjang-panjang lagi soal wejangan ini.

just wanna say. ada banyak hal yang nampaknya tak sama seperti yang kita lihat di luar. ada banyak hal yang mungkin tak terkatakan dan hanya bisa dilihat (atau dimengerti) melalui hati.

seperti soal anak. dan MUNGKIN, juga : JODOH. :’)


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post